makalah fisika “KETERKAITAN ANTARA IPA DENGAN AGAMA”
MAKALAH FISIKA
“KETERKAITAN ANTARA IPA DENGAN AGAMA”
DI SUSUN OLEH :
NAMA: SUDIRMAN
NIM : 14.09.03.0007
PRODI AGRONOMI
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN
DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD (STIP DDI)
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi
Rabbil’alamin, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah serta pertolongannya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah fisika pada semester satu ini. Sholawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada pembawa risalah ALLAH,yakni Nabi Muhammad
SAW.
Makalah ini merupakan pemenuhan dari
salah satu tugas mata kuliah fisika, Namun buku ini juga dapat dijadikan
sebagai referensi untuk mengetahui dan mendalami islam dan pengembangan ilmu
pengetahuan alam.
Makalah ini diharapkan dapat
memberikan solusi berdasarkan wawasan keislaman kepada pembaca khususnya dari
kalangan mahasiswa karena kajian yang dibahas berhubungan dengan ilmu
pengetahuan alam yang lagi jaya pada saat-saat ini. Makalah ini membekali
pencerahan spiritual dan intelektual
yang dikemas dengan bahasa yang mudah dipahamai.
Sebagai akhir dari pengantar ini,
kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu
kelancaran dalam proses pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran kami harapkan untuk kesempurnaan
makalah ini lebih lanjut. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca,
amin.
Polewali,15 November 2014
Penulis,
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
1
Daftar Isi………………………………………………………………….. 2
Bab I Pendahuluan……………………………………………………….. 3
A. Latar Belakang…………………………………………………………… 3
B.
Rumusan masalah……………………………………………………….. 3
Bab II Pembahasan……………………………………………………….. 4
Bab III Penutup…………………………………………………………… 18
Daftar Pustaka…………………………………………………………….. 19
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah hamba Allah yang diturunkan ke bumi ini
sebagai penghuninya. Manusia adalah makhluk Allah diberi kelebihan berupa akal
daripada makhluk-makhluk lainnya. Dengan akalnya itu manusia bisa berbuat lebih
daripada makhluk lainnya.
Pada awal penciptaannya, manusia hanyalah makhluk yang tidak
tau apa-apa dan karenanya manusia membutuhkan sebuah petunjuk bagi jalan
hidupnya. Manusia memerlukan guideline agar hidupnya selamat di dunia dan di
akhirat. Guideline bagi manusia adalah agama. Agama adalah petunjuk hidup,
melingkupi seluruh aspek dalam diri manusia, termasuk ilmu pengetahuan.
Begiitu banyak penemuan-penemuan ilmiah terbaru di abad modern
ini ternyata sudah ditegaskan oleh Al-Qur’an sejak belasan abad lampau. Dengan adanya
bukti ilmiah yang sesuai dengan kitab suci, maka dapat diketahui bahwa
sesungguhnya agama selaras dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada pertentangan antara agama
dengan ilmu pengetahuan.
Agama tidak mengekang ilmu pengetahuan. Agama hanyalah
mengatur agar ilmu pengetahuan tidak melewati batas-batas norma dan etika yang
adanya. Di dalam agama, untuk hal-hal yang sifatnya bukan ibadah umum terdapat
kaidah ”segala hal itu diperbolehkan kecuali yang dilarang.” Dengan demikian
ilmu pengetahuan dapat terus berkembang dan bermanfaat bagi umat manusia.
B.
Rumusahan masalah
1. Pengertian Ilmu
Pengetahuan dan Agama.
2. Hubungan Antara Ilmu
Pengetahuan dan Agama.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Agama
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan
Dalam
kehidupannya manusia banyak mendapat pengalaman. Dari pengalaman itu didapatkan
sejumlah pengetahuan yang memiliki sifat keajegan tertentu tanpa kemampuan
untuk menjelaskan sebab-sebabnya secara terinci dan rasional. Pengetahuan
demikian banyak macamnya dalam kehidupan ini. Tiap manusia berbeda jumlah dan
macamnya pengalaman yang dimiliki tersebut, tanpa ada kemampuan untuk
menjelaskannya. Kalau ingin mampu memberikan penjelasan, maka masih diperlukan
kegiatan yang lebih intens untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih utuh dari
pada umumnya pengetahuan yang ada.untuk itu perlu didukung oleh sejumlah
kegiatan berikutnya yang lebih serius guna mendapatkan intisari tersebut hingga
dapat dipedomani untuk perencanaan, prediksi-prediksi, maupun kontrol atas kebenarannya.
Kombinasi
usaha mencari pendekatan rasional dan pengumpulan fakta-fakta empiris inilah
yang biaasa disebut dengan pendekatan mendapatkan pengetahuan dengan metode
keilmuan. Melalui metode keilmuan akan didapatkan ilmu dari sejumlah pengetahuan
yang memiliki ciri-ciri tertentu sebagai pembeda dengan pengetahuan-pengetahuan
lainnya yang belum teruji. Jadi ilmuadalah pengetahuan yang memenuhi ciri-ciri
tertentu dan istilah yang dibakukan menjadi “ilmu = ilmu pengetahuan”, yang
kedua terminologi tersebut digabung
menjadi satu kata. Dapat dirumuskan juga bahwa ilmu ialah sebagai pengetahuan
yang ilmiahdan umum digabung menjadi ilmu pengetahuan secara langsung.
2. Pengertian agama
Kepercayaan terhadap yang abstrak
B.
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan
agama
1.
Pandangan Islam Terhadap IPTEK
Agama islam banyak memberikan penegasan mengenai ilmu
pengetahuan baik secara nyata maupuan tersamar, seperti yang tersebut dalam
surat al-mujadalah ayat 11 sebagai berikut :
“Allah
akan mengangkat orang-orang beriman diantara kamu sekalian yang berilmu
pengetahuan beberapa drajat.”
Maksudnya sebagai berikut: sama-sama dari golongan beriman
mak allah masih akan meningkatkan derajat bagi mereka, ialah mereka yang
berilmu pengetahuan. Tersebut juga dalam surat al-alaq ayat 1 sampai 5:
“Bacalah
dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan dari
segumpal darah. Bacalah dan tuhanmu lah yang maha pemurah. Yang mwngajar
manusia dengan perantara kalam. Dia megajarkan kamu apa-apa yang tidak
diketahui.”
Jelas bahwa pada prinsipnya kita diperintah oleh allah untuk
membaca bukan saja membaca secara sempit atau membaca secara harfiah. Makna
membaca diatas adalah membaca kalam allah yang tergores dalam alam semesta.
Orang berilmu pengetahuan berarti menguasai ilmu dan
memiliki kemampuan untuk mendapatkan dan menjelaskannya. Untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan diperlukan antara lain adanya sarana tertentu yakni yang disebut
“berpikir”. Jelasnya berpikir pada dasarnya merupakan suatu proses untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, apabila didalam al-qur’an sering-sering
disebut dengan kata-kata “berpikir” atau “berpikirlah” dan sebagainya. Dalam
arti langsung maupun sindiran, dapat kita artikan juga sebagai perintah untuk
mencari atau mengusai ilmu pengetahuan.
Dalam al-qur’an dan al-hadits sangat banyak ayat-ayat yang
menerangkan tentang hubungan antara ajaran islam dan ilmu pengetahuan serta pemanfaatannya yang kita sebut iptek.
Hubungan tersebut dapat berbentuk semacam perintah yang mewajibkan menyuruh
mempelajari pernyataan-pernyataan, bahkan da yang berbentuk sindiran dan
sebagainya.
Kesemua itu tidak lain adalah menggambarkan betapa eratnya
hubungan antara islam dan ilmu pengetahuan sebagai hal yang tidak dapat
dipisahkan. Demikia juga tiap tindakan keilmuan mempunyai tujuan dan niata.
Sebagaimana niat sangat menentukan. Apakah suatu tindakan kegiatan itu
dibenarkan atau tidak, dibolehkan atau tidak, hanyalah dapat ditentukan
menggunakan parameter tunggal ialah niat.
Untuk melaksanakan perintah islam seperti
naik haji, mengusai dan mengambil manfaat isi bumi untuk kesejahteraan manusia,
untuk menentukan disaat mulainya puasa ramadhan dan mengakhirinya dan
sebagainya, hanya dapat sempurna bila ditopang dengan iptek.[1][1]
2.
Manusia Alam Dan Tuhan, Menyepadukan
Sains Dan Agaama
Penerapan sains dalam dunia modeern telah menghasilkan
banyak teknologi yang membbuat kehidupan manusia lebih sehat, lebih nyaman, dan
lebih aman. Sementara itu sains juga merupakan salah satu jalan untuk mencari
kebenaran, yaitu kebenaran objektif. Walaupun begitu, sains cenderung menjadi
otonom sehingga karenanya ia lebih sering dipandang sebagai satu-satunya jalan
menuju kebenaran.
Sebagai akibatnya kita sering menghadapi perbenturan antara
sains dan agama di bidang teologi. Persoalannya, sains sebenarnya hanya
berbcara tentang realitas objektif tentang alam dan manusia. Padahal
sesungguhnya agama berbicara tentang manusia seutuhnya, yaitu tubuh dan ruh,
dan alam seluasnya, yaitu alam nyata dan alam gaib, serta kenyataam seluruhnya,
yaitu alam beserta tuhan yang mencipta. Jadi sebenarnya terdapat perpotongan
antara keduanya, yait pada masalah alam dan manusia. Tak ada pertentangan
antara keduanya.
Namun dalam perjalanan sejarah beberapa abad setelah
reinaisans, revolusi sains, diikuti oleh revolusi industri, pengetahuan ilmiah
kita tentang diri dan alam lingkungan kita telah berubabh secara tajam.
Sayangnya gambaran baru itu untuk banyak orang cenderung menegasikan gambaran
yang diberikan oleh teologi agama-agama dunia yang manapun. Karena itulah agama
makin ditinggalkan. Begitulah kejadiannya.
Hal ini terjadi jika kita hanya melihat di tataran pemukaan.
Padahal seharusnya kita melihat bahwa sebenrnya telogi hanyalah merupakan
konstruksi intelektual manusia yang mencoba memahami pesan-pesan religius para
nabi. Dengan demikian kita harus berani menghadapkan teologi dengan sains dan
membuat keduanya berkembang secara dealektis dan komplementer untuk memecahkan
permasalahan umat manusia yang ditimbulkan oleh penerapan sains yang maju itu.
Ian barbour misalnya adalah seorang pemikir yang sangat
sadar akan hal itu. Oleh karena itu dia selalu memetakan hubungan sains dan
agama. Menurutnya antara sains dan agama terdapat empat bagian varian hubungan:
konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Dalam hubungan konflik, sains
menegasikan eksistensi agama dan agama menegasikan sains. Masing-masing hanya
mengakui keabsahan eksistensi dirinya.
Sementara itu dalam hubungan independensi, masing-masing
mengakui keabsahan eksistensi yang lain dan menyatakan bahwa diantara sains dan
agama tak ada irisan satu sama lainnya. Sedangkan dalam hubungan dialog, diakui
bahwa antara sains dan agama terdapat kesamaan yang dapat didialogkan antara
para ilmuwan dan agamawan, bahkan bisa saling mendukung.
Ian barbour memilih hubungan yang keempat, yaitu integrasi.
Dia menyatakan bahwa ada dua varian integrasi yang menggabungkan agama dan
sains. Yang pertama disebutnya sebagai teologi natural (natural theology) dan
yang kedua yang biasanya disebut sebagai teologi alam (theologi of nature).
Pada varian teologi natural , menurut barbour, teologi mencari dukungan kepada
penemuan-penemuan ilmiah, sedangkan pada varian teologi alam, pandangan
teologis tentang alam justru harus dirubah, disesuaikan dengan
penemuan-penemuan sains yang mutakhir tentang alam.
Barbour sendiri nyatanya merasa bahwa varian kedua ini yaitu
teologi alam, sebagai yang paling benar dan karena itu dia menganutnya dengan
setia. Oleh karena itu barbour mengamati dengan cermat rekonstruksi konsepsi
teologis yang sedang terjadi dikalangan pemikir-pemikir agama. Dia memerhatikan
bagaimana para teologi itu mencoba itu membuat sintesis teologis baru yang
menurut mereka lebih baik dari pada teologi tradisional. Namun, pengamatannya
itu dibatasi pada teologi kristen.[2][2]
3.
Agama, Ilmu Dan
Masa Depan Manusia
Agama dan ilmu
dalam berberapa hal berbeda,namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama
lebih mengedepankan moalitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual),
Cenderung eksklusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru,
Tidak terlalu terikat dengan etika, Progresif, bersifat inklusif, dan objekif.
Agama
memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati,
Sedangkan ilmu memberi ketenangan dan sekaligus kemudahan bagi kehidupan
didunia. Agma mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, Hampir semua kitab suci
menganjurkan umatnya untuk mencari ilmu sebanyak mugkin. Agama dan ilmu sama –
sama memberikan penjelasan ketika terjadi bencana alam, Sepeti banjir dan gempa
bumi. Gempa bumi dalam konteks agama adalah cobaan Tuhan dan sekaligus
rancangannya tentang alam secara keseluruhan. Oleh karena itu, Manusia harus
bersabar tentang percobaan tersebut dan mencari hikmah yang terkandung di balik
setiap bencana.
Karakteristik
agama dan ilmu tidak selalu harus dilihat dalam konteks yang beseberangan,
Tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana keduannya bersinergi dalam membantu
kehidupan manusia yang lebih layak. Contohnya ilmu dan teknologi mampu
mengantarkan manusia hidup dalam tataran yang global, Yang juga sering disebut
dengan era informasi, Tetapi kehidupan yang global itu pula yan menyengsarakan
sebagian besar penduduk dikuli bumi ini.
Namun, di sisi
lin manusia semakin tergantung pada teknologi, Seperti teknologi informasi,
Sehingga tidak mampu lagi membedakan antara yang benar – benar nyata dan hasil
rekyasa, Termasuk rekayasa informasi. Katakanlah informasi yang cepat tentang
tsunami di aceh, Begitu cepat menyebar keseluruh dunia, sehingga denagn
sepontan terjadi solidaritas global. Solidaritas global ini sebenarnya buah
dari rekayasa informasi yang begitu dahsyat.sebab, dalam waktu yang bersamaan
semua televisi mnayangkan kejadin yang amat mengerikan dan menyentuh rasa
kemanusiaan. Padahal, wilayah Aceh yang tidak kena musibah ada jauh lebih
menderita daripada yang berada di wilayah tsunami. Persoalannya, mereka tidak
diinput oleh media informasi, sehingga tidak ada solidaritas untuk membantu
penderitaan mereka. Inilah contoh betapa dahsyatnya kekuatan sebuah rekayasa
informasi.
Teknologi
ternyata didasari atau tidak menciptakan sesuatu yang tidak diprediksi
sebelumnya. Ilmu dan teknologi mengalami degradasi nilai dan akhirnya dapat
memenjara ilmu dan teknologi itu dalam satu kerangkeng tertentu. Contohnya,
televisi adalah bentuk dari kerangkeng teknologi informasi karena ketika
informasi masuk dalam kotak yang bernama televisi, makapada waktu itu teknologi
informasi menjadi budak bagi kepentingan kotak tersebut.
Jika teknologi
dijadikan tujuan dan cita-cita, maka pada gilirannya peradaban teknologi
akhirnya berubah menjadi kekuasaan yang membelenggu manusia sendiri. Nicolas
Berdyev dalam bukunya The Destiny of Man berucap:
“Technical
progress testifies not only to man’s strength and power over nature; it not
only liberales men but also weakens and enslaves him; it mechanizes human life
and give man the image and semblance of machine.”
“Kemajuan
teknik tidak saja membuktikan kekuatan serta daya manusia untuk menguasai alam,
kemudian teknik itu tidak saja membebaskan manusia, tetapi juga memperlemah
serta memperbudaknya, kemajuan itu memekanisasikan manuisa dan menimbulkan
gambaran serta persamaan manusia dengan mesin.”
Jelas bahwadi
satu sisi teknologi menjadi penjara bagi manusia, namun pada sisi lain
teknologi itu pun dipenjara oleh kepenting manusia. Teknologi layar seakan-akan
telah memenjarakan manusia karena dia tidak bekerja kalau tidak ada komputer
atau handphone. Namun, pada saat yang bersamaan manusia memanfaatkan layar
untuk ambisinya. Maka tidak ada heran, bila kemudian layar televisi yang
luasnya beberapa puluh inci disesaki oleh berbagai program. Ibarat tong sampah
semuanya ada di situ, pasar, politik, ekonomi, masjid, geeja, pura, dokter,
dukun, gajah, dan semut semua masuk televisi. Para penguasa televisi
memanfaatkan benar kebutuhan itu untuk menccari untung sebanyak-banyaknya.
Sebagaimana
ilmu dan teknologi, agama mendapat tantangan dari rasionalitas manusia yang
telah membuktikan diri mampu mengubah penampilan dunia fisik. Perwujudan dari
kearifan religius yang unspeakable dikalahkan oleh rasionalitas yang
senantiasa melihat persoalan secara teknis sebatas alam fisik. Pada tingkat
praktis, “agama kuno”memiliki apresiasi terhadap kehidupan yang lebih dan ini
mengacu kepada jiwa yang lebih ksatria dan mulia; sedangkan “agama modern"
mewakili sikap egoistis manusia terhadap lingkungannya, jika bukan memamerkan
cara mengesahkan keserakahan, sekadar untuk tidak dianggap kuno.
Semangat yang
berlebihan dalam beragama justru akan merugikan dan merusak makna agama
itusendiri. Di satu pihak, penerapan rasionalitas dalam agama yang dilakukan
oleh mereka yang ingin memodernisasi agama agar sesuai dengan kemajuan zaman,
atau berpretensi untuk membersihkan agama dari berbagai bid’ah akan
memiskinkan agama sekadar pelayan materialisme, karena rasionalitas hanya dapat
bekerja pada wilayah logis yang speakable dan bukan wilayah reflektif dari
pengetahuan manusia di mana wilayah rasionalitas harus bekerja dua kali dan dengan
demikian mengingkari dirinya. Di pihak lain, religiusitas tidak dapat
direalisasi secara paksa karena hanya akan memuaskan perasaan manusia belaka.
Visualisasi yang bagaimanapun tentang Tuhan hanya menghasilkan patung Tuhan.
Agama sendiri
merupakan faktor utama dalam mewujudkan pola-pola persepsi dunia bagi manusia.
Persepsi-persepsi itu turut mempengaruhi perkembangan dunia itu sendiri, dan
dengan cara demikian juga mempengaruhi jalannya sejarah. Persepsi-persepsi itu
menentukan pula cara manusia menundukkan dirinya di dunia ini. Sebaliknya
sejarah juga memaksakan perubahan dan penyesuaian terus-menerus pola-pola
persepsi itu tadi, terutama pada masyarakat yang sedang berubah dengan pesat.
Manusia
merupakan makhluk yang “future-oriented”, tindakan dan pertimbangan pada
saat ini penting untuk memprediksi persoalan-persoalan masa depan. Bahkan
sejarah penuh dengan contoh-contoh, baik tentang kekejaman manusia maupun
tentang pengorbanannya yang telah dilakukannya dengan maksud untuk menjamin
terjadinya suatu hari depan yang lebih baik. Dalam setiap agama ada pengorbanan
yang jauh lebih mulia jika dilakukan demi mencapai masa depan yang lebih baik.
Mati syahid dalam Islam adalah bentuk dari suatu kematian yang diharapkan
karena seseorang yang mati syahid akan langsung masuksurga tanpa melalui hisab.
Dalam beberapa sekte agama Kristen ekstrem kematian yang dipercepat mampu
mengantarkan seseorang langsung menuju surga.
Dalam
agama-agama pandangan mengenai hari depan tidak seragam. Ada yang berpandangan
bahwa tujuan akhir kehidupan ini adalah Nirwana, yakni ketiadaan dan dalam
ketiadaan itu sifat dan keinginan kemanusiaannya hilang. Ketika manusia masih
memiliki keinginan, dia akan kembali ke dunia dalam bentuk lain. Namun, jika
dia mampu menghilangkan semua sifat dan keinginannya, saat itulah tujuan dan
kesempurnaan hidup trcapai. Ada juga yang berpandangan bahwa ada kehidupan yang
lebih abadi dan tenang di alam sana sehingga bagi orang yang sudah membekali
dirinya untuk berangkat ke alam sana tidak akan takut menghadapi mati. Ibarat
prajurit yang akan pergi perang, semua persiapan sudah lengkap sehingga dia
amat pecaya diri menghadapi musuh.
Dalam kerangka
itu, agama dan ilmu memiliki kesamaan, yakni sama-sama mendesain masa depan
manusia. Desain agama lebih jauh dan abstrak, sedangkan ilmu dan teknologi
lebih pendek dan konkret. Desain agama untuk memberikan ketenangan hidup
setelah hidup, sedangkan desain ilmu dan teknologi untuk hidup masa depan di
dunia ini. Penemuan uap dan listrik adalah bagian dari persiapan untuk anak
cucu James Watt dan Thomas Alfa Edison. Mereka sendiri tidak lama menikmati
hasil karyanya, kalaupun dinikmati tidak maksimal dan tidak sama dengan apa
yang kita nikmati sekarang.
Dalam pandangan
agama, ilmu, dan teknologi bukan merupakan aspek kehidupan umat manusia yang
tertinggi. Tidak juga merupakan puncak kebudayaan dan peradaban umat manusia di
dalam evolusinya mencapai kesempurnaan hidup (perfection of existence).
Banyak kaum rasionalis yang materialistis menganggap bahwa abad modern, abad
ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang adalah puncak dari peradaban dan
kebudayaan manusia. Karena dengan akalnya yang tajam manusia modern dapat
menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat mengagumkan, dan
menganggap manusia zaman dahulu adalah lebih rendah peradaban dan kebudayaannya
karena terlalu diliputi oleh kehidupan yang tidak rasional, takhayul, dan
terbelenggu oleh kepercayaan agama yang dogmatis.
Ilmu
pengetahuan dan teknologi memakai rasio (akal) yang tajam. Kerohanian, kejiwaan
agama memakai “intuisi” (wahyu) sebagai sarana masing-masing untuk membuktikan
kebenarannya dan menghayati hakikatnya. Ilmu pengetahuan hingga kini dianggap
sebagai pengawal kemajuan umat manusia yang akhir-akhir ini secara umum banyak
diserang sebagai pembawa berbagai macam ketimpangan dan pencemaranfisik,
biologi, sosial, dan budaya.
Dalam
memanfaatkan ilmu dan teknologi untuk pembangunan, maka demi menjaga
keseimbangan antara teknologi, pembangunan, dan lingkungan kita tidak boleh
dihinggapi penyakit rabun dekat dan mengikuti naluri untuk hanya memikirkan
hasil-hasil jangka pendek. Keuntungan semu jangka pendek tidak mustahil dapat
menjadi bumerang yang mengakibatkan kerugian dalam jangka panjang. Maka, asas keseimbangan
harus diterapkan karena memang dalam gejolak dan derap pembangunan senantiasa
kita dihadapkan kepada krisis nilai-nilai insani dan masalah untuk memanusiakan
manusia itu sendiri; problema manusia tersebut tidak menjadi alat atau korban
dari ciptaannya sendiri, masalah des
soushommes dan des super-machines
menurut istilah A. Kaufman dan J. Peze.
Sebagaimana Negara Amerika Serikat yang maju dan makmur
telah terjadi krisis kepribadian atauu identitas karena derap teknologi lebih
banyak mengancam status dan peranan manusianya daripada pekerjaannya. Ancaman
otomasi adalah sebagian dari krisis identitas tersebut. apabila mesin-mesin itu
bukan hanya dapat menggantikan manusia, tetapi bahkan dapat melakukan
pekerjaannya secara lebih baik dan lebih murah.
Kemajuan ilmu pengetahuan yang secara global ini, umat
manusia senantiasa dihadapkan pada peperangan. Namun, sejak berakhirnya Perang
Dunia II sifat peperangan telah berubah sedemikian drastisnya sehingga masa
depan umat manusia dan masa depan generasi-generasi yang belum dilahirkan
menghadapi bahaya yang amat gawat. Potensi berbagai senjata nuklir, kimiawi,
biologis, dan bahkan senjata konvensional, dengan berbagai alasan politis dan
komersial, semakin meningkatkan ancaman baru bagi kehancuran global.
Akibat dari
penggunaan senjata nuklir, kimiawi, biologis, dan sebagainya secara
besar-besaran akan menimbulkan perubahan-perubahan ekologis dan genetik tak
terpulihkan yang batas-batasnya tidak dapat diramalkan. Maka, ilmu pengetahuan
dan teknologi benar-benar tidak berdaya untuk mempersembahkan kepada dunia satu
pun penangkal yang mujarab. Tidak ada prospek untuk dapat membuat suatu
pertahanan yang cukup berdaya guna untuk melindungi wilayah pemukiman. Tidak
ada prospek untuk mencegah penghancuran segala dasar budaya, sosial, ekonomi,
dan industri dari suatu masyarakat. Juga tidak ada satu pun sistem medis yang
akan dapat menanggulangi akibat penghancuran massal yang masif itu.
Para ilmuwan
dan teknolog diimbau membantu mencegah penyalahgunaan ilmu pengetahuan yang
digunakan sebagai pembinaan massal. Dan pada hakikatnya, semua orang yang
berakal sehat diimbau untuk beri’tikad baik dalam menghadapi problema bahaya
perang nuklir yang senantiasa mengancam
kehidupan kita di dunia. Semua perbedaan pendapat, termasuk perbedaan di bidang
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama, hendaknya dapat
diletakkan dalam perspektif yang serasi dan tepat guna. Sasaran imbauan adalah
segenap manusia-manusia di balik ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tidak
mengembangkan, memproduksikan, dan menggunakan senjata nuklir. Para penanggung
jawab utama keselamatan bangsa dan negara diimbau untuk tidak melakukan
rekayasa sosial (social engineering)
dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pemahaman kita
tentang genetika telah mengguncang dunia. Teknologi genetik menghadirkan
tantangan terbesar bagi keyakinan agama tradisional. Penguraian kode genom
manusia, serta dukungan filosofis untuk upaya tersebut, memaksa untuk
dilakukannya pengkajian ulang serta mendalam tentang makna menjadi manusia.
Teori determinisme genetika bahwa gen kita menentukan bukan wujud fisik saja,
tetapi juga kecenderungan seksual, tingkat agresi, dan ada kemungkinan
kecenderungan keagamaan kita menyebabkan para teolog mengkaji pemikiran mereka
mengenai kehendak bebas, kebutuhan Tuhan manusia akan agams, bahkan keberadaan
Tuhan.
Adanya
tantangan mendalam terhadap ortodoksi agama dan adanya konsekuensi kedigdayaan
teknologi genetika, maka sangat penting dan kritis bagi kita untuk mendengar
pandangan dan pikiran para teolog dan filosof dari berbagai agama. Seperti kata
biolog W. French Anderson, bahwa “Teknik yang hebat mempunyai segi buruk yang
hebat pula.” Donald Shriver, presiden emeritus pada Union Theological Seminary
di New York dan guru besar Emeritus di bidang etika di Columbia University, berpendapat
bahwa “karena kita tidak memiliki kearifan untuk mengenai konsekuensinya, tak
dapat ditawar lagi, kita harus waspada manakala konsekuensi itu mulai muncul.”
Lebih jauh dia menekankan bahwa “sebagai manusia, kita tentu tak akan luput
dari berbuat kesalahan. Demikian juga dengan masyarakat. Namun, sifat baik
manusia adalah bisa memaafkan kesalahan dan sekaligus bisa menggunakan
kesempatan untuk mencoba lagi untuk memperbaikinya. Agama sering sekali
menyebut ihwal peluang kedua yang tampaknya dapat diberikan oleh Tuhan kepada
kita, manusia.”
Para pemuka
agama Kristen, Yahudi, dan Islam menawarkan konteks untuk direnungkan oleh
komunitas ilmiah. Menurut para ilmuwan, laju inovasi teknologi agak sulit
diramalkan. Dalam simposium di UCLA, Mario Caphecchi-guru besar yang amat
menonjol dalam bidang biologi dan genetika manusia di U niversity of Utah
mengatakan, “Biasanya kita cenderung melebih-lebihkan apa yang dapat kita
kerjakan dalam 25 tahun mendatang.” Selain itu, terdapat kekhawatiran dari
sudut etika yang mendalam bahwa berbagai teknologi ini bisa terpeleset dari
terapi menjadi sekedar gaya, sebagaimana teknologi rekonstruksi yang mula-mula
dikembangkan untuk menolong prajurit yang terluka di medan perang menjadi bedah
kecantikan. Di kalangan teolog, ilmmuwan, dan ahli biotika berkembang rasa muak
yang meluas terhadap gagasan mengubah manusia secara genetik hanya dengan dalih
“perbaikan” yang bersifat superfisial, namun tidak ada kesepakatan mengenai
apakah dapat ditarik garis pembatas yang jelas antara penyembuhan penyakit dan
perbaikan penampilan.
Menurut Gookin,
“Kewajiban moral dan estetika para seniman untuk menyempurnakan citra tubuh
manusia dalam seni kini telah dialihkan ke bidang ilmu genetika. Dengan
genetika, para ilmuwan diberi piranti yang dapat mereka gunakan untuk
menerapkan konsep ‘perbaikan’ estetika dan moral terhadap organisme manusia itu
sendiri.”
Dalam upaya
memisahkan kepingan genetik dari DNA (Deoxyribonucleic
Acid) dan merekombinasikannya lagi dengan yang lain dapat mengubah “instruksi”
yang menguasai sel hidup. Maka, dengan menempatkan molekul DNA dari tubuh kita
ke dalam bakteri dapat diproduksikan secara alamiah zat-zat untuk menanggulangi
berbagai penyakit, seperti produksi insulin untuk diabetes, dan interferon yang
mungkin dapat turut memerangi kanker. Masalah perekayasaan genetik ini bersifat
multikompleks, yang untuk beberapa isu dan berbagai tempat di dunia masih
diperdebatkan orang. Namun, dari perpaduan antara biologi dan teknologi itu
kian terbuka wilayah baru bioteknologi. Spektrum yang dicakup oleh bioteknologi
sangat luas, mulai dari yang sederhana hingga yang amat bersofistikasi atau
canggih.
Ilmu dapat
dilumpuhkan oleh biasnya sendiri, sebagaimana juga agama. Di dunia Barat dewasa
ini, tujuan ilmu adalah menjelaskan alam fisik, sementara tujuan agama adalah
menjelaskan alam spiritual. Ilmu mengira bahwa ilmu tidak memiliki filsafat dan
sekedar untuk mengkajidan mengukur benda secara empiris. Padahal sesungguhnya
ilmu juga memiliki filsafat: ilmu hanya menganggap penting benda yang empiris.
Dan ilmu tidak akan melatih penganutnya untuk berfikir secara filosofis. Mereka hanya akan
mempelajari berbagai jenis rumus dan teknologi.
Sinergi agama
dan ilmu dalam konteks ini dapat dilakukan demi terwujudnya keseimbangan peradaban
manusia. Sebab, kalau masing-masing pihak masih tetap mempertahankan ego, maka
masa depan umat manusia tidak dapat diramalkan.
Di sinilah ilmu
dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dilihat
dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan kehidupan yang lebih abadi.
Kalau visi ini yang diyakini oleh para ilmuwan dan agamawan, maka harapan
kehidupan ke depan akan lebih cerah dan sentosa. Tentu saja pemikiran-pemikiran
seperti ini perlu dukungan dari berbagai pihak untuk terwujudnya masa depan
yang cerah dan harmonis.
Berperilaku
Islami dalam Menghadapi Kemajuan IPTEK
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang
kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak
orang di berbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material
(fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan Iptek modern tersebut membuat
banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa
dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis
multidimensional yang diakibatkannya.
Peradaban Barat modern dan postmodern saat ini
memang memperlihatkan kemajuan dan kebaikan kesejahteraan material yang seolah
menjanjikan kebahagian hidup bagi umat manusia. Namun lepas dari kendali
nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama.
Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan
muncul bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap
Tuhan Allah SWT dan terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi)
sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan Keagungan-Nya.
Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam
yang menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman
dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang
menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah
tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekular yang berada di balik
wajah ilmu pengetahuan modern tersebut.
Karena alam semesta –yang dipelajari melalui ilmu
pengetahuan–, dan ayat-ayat suci Tuhan (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah SAW —
yang dipelajari melalui agama– adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan
perwujudan/tajaliyat) Allah SWT, maka tidak mungkin satu sama lain
saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari satu
Sumber yang Sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh Alam Semesta.
Dalam membicarakan tentang iptek mulai
dikaitkan dengan moral dan agama. Dalam kaitan ini, keterkaitan iptek dengan
moral (agama) diharapkan bukan hanya pada aspek penggunaannya saja (
aksiologi), tapi juga pada pilihan objek (ontology) dan
metodologi(epistemology)nya sekaligus.
Dinegara ini gagasan tentang pendidikan imtak dan
iptek sudah lama di gulirkan seperti yang diterapkan BJ.Habibie karena adanya
problem dikotomi antara apa yang di namakan ilmu-ilmu umum(sains) dan
ilmu-ilmiu agama (islam) juga disebabkan adanya kenyataan bahwa
pengembangan iptek dalam system pendidikan di Indonesia tampaknya berjalan
sendiri tanpa dukungan asas iman dan taqwa yang kuat sehingga pengembangan dan
kemajuan iptek tidak memiliki nilai tambah dan manfaat untuk kemaslahatan
umat dan bangsa.
Secara lebih spesifik integrasi pendidikan imtak dan
iptek di perlukan karena empat alasan :
1. Iptek akan memberikan berkah dan manfaat yang
sangat besar bagi kesejahteraan hidup manusia bila iptek disertai oleh asas
iman dan taqwa kepada allah SWT. Sebaliknya, tanpa asas imtak,iptek bias
disalah gunakan pada tujuan-tujuan yang bersifat destruktif (merusak)
2. Iptek yang menjadi dasar modernisme, telah
menimbulkan pola dan gaya hidup baru yang bersifat sekularistik,materialistic
dan hedonistic yang sangat berlawanan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang
di anut oleh bangsa Indonesia
3. Dalam kehidupan, manusia tidak hanya
memerlukan sepotong roti (kebutuhan jasmani), tetapi juga membutuhkan imtak dan
nilai-nilai surgawi( kebutuhan spiritual) oleh karena itu, penekanan pada salah
satu sisi, akan menyebabkan kehidupan menjadi pincang dan berat sebelah , dan
menyalahi hipnat kebijaksanaan tuhan yang telah menciptakan manusia dalam
kesatuan jiwa raga, lahir dan batin, dunia dan akhirat
4. Imtaq menjadi landasan dan dasa paling kuat
yang akan mengantar manusia menggapai kebahagiaan hidup.tanpa dasar imtak,
segala atribut duniawi,seperti harta, pangkat, ipte, dan keturunan, tidak akan
mampu alias gagal mengantar manusia meraih kebahagiaan.
Aqidah Islam sebagai landasan iptek
Jika kita menjadikan
Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu astronomi,
geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau
hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains,
itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.
Jadi, yang dimaksud
menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek
wajib bersumber kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits. Ringkasnya, Al-Qur`an dan
Al-Hadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek.
Asalkan iptek yang dikembangkan sesuai dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits.
Setiap manusia diberi
hidayah allah SWT berupa ‘’ Alat” untuk mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah
tersebut adalah Indra, untuk menangkap kebenaran fisik Naluri, untuk
mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara pribadi maupun
social. Pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan
tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa,ilmiah dan fisafih). Akal juga
merupakan pengantar untuk menuju kebenaran tertinggi. Imajinasi, daya hayal
yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya
Hati nurani, suatu
kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran tingkah laku manusia
sebagai makhluk yang harus bermoral
Dalam menghadapi
perkembangan budaya,manusia dengan perkembangan iptek yang pesat, perlu mencari
keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma islam dengan perkembangan
tersebut.Menurut Mehdi Ghulsyani (1995),Menurut Al-Faruqi yang mengintrodusir
istilah. “ Islamisasi Ilmu Pengetahuan “dalam menghadapi perkembangan
iptek ilmuwan muslim dapat di kelompokan dalam 3 kelompok ;
- Kelompok yang menganggap iptek modern bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil iptek modern dengan mencari ayat-ayat al-qur’an yang sesuai
- Kelompok yang bekerja dengan iptek modern, tetapi berusaha juga mempelajari sejarh dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yamg tidak islami.
Arah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibutuhkan
agar dalam perkembangannya tidak menyimpang dari ketentuan hukum-hukum syara’,
dan hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu manusia demi kepuasan
intelektualitas. Dalam sistem pendidikan islam, strategi dan arah perkembangan
iptek dapat kita lihat dalam kerangka berikut ini:
- Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka untuk mengenal Allah swt. sebagai Al Khaliq, menyaksikan kehadirannya dalam berbagai fenomena yang diamati, dan mengangungkan Allah swt, serta mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah diberikanNya.
- Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang hanya takut kepada Allah swt. semata sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan terhadap siapapun juga tanpa pandang bulu.
- Ilmu yang dipelajari berusaha untuk menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta.
- Ilmu dikembangkan dalam rangka mengambil manfaat dalam rangka ibadah kepada Allah swt., sebab Allah telah menundukkan matahari, bulan, bintang, dan segala hal yang terdapat di langit atau di bumi untuk kemaslahatan umat manusia.
- Ilmu dikembangkan dan teknologi yang diciptakan tidak ditujukan dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.
- Dengan demikian, agama dan aspek pendidikan menjadi satu titik yang sangat penting, terutama untuk menciptakan SDM (Human Resources) yang handal dan sekaligus memiliki komitmen yang tinggi dengan nilai keagamaannya.
- Di samping itu hal yang harus diperhatikan pembentukan SDM berkualitas imani bukan hanya tanggung jawab pendidik semata, tetapi juga para pembuat keputusan politik, ekonomi, dan hukum sangat menentukan.
- Perlu dicatat bahwa akar kriminalitas, termasuk KKN, terjadi adalah akhlaq/perilaku manusianya yang teralienasi dengan ajaran agamanya. Revolusi terhadap perilaku manusia merupakan basis dari gerakan pembaharuan yang benar. Oleh sebab itu sangat diperlukan co-responsible for finding solutions. Untuk melakukan revolusi tersebut maka musti diawali dengan revolusi pemikiran (Taghyiir al Afkaar) dan pemahaman manusia terhadap Islam.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ilmu adalah
pengetahuan yang memenuhi ciri-ciri tertentu dan istilah yang dibakukan menjadi
“ilmu = ilmu pengetahuan”, yang kedua terminologi
tersebut digabung menjadi satu kata. Dapat dirumuskan juga bahwa ilmu ialah
sebagai pengetahuan yang ilmiah dan umum digabung menjadi ilmu pengetahuan
secara langsung. Melalui metode keilmuan akan didapatkan ilmu dari sejumlah
pengetahuan yang memiliki ciri-ciri tertentu sebagai pembeda dengan
pengetahuan-pengetahuan lainnya yang belum teruji. Sedangkan pengertian dari
agama adalah Kepercayaan terhadap
yang abstrak
Agama
islam banyak memberikan penegasan mengenai ilmu pengetahuan baik secara nyata
maupuan tersamar, seperti yang tersebut dala surat al-mujadalah ayat 11. Jelas
bahwa pada prinsipnya kita diperintah oleh allah untuk membaca bukan saja
membaca secara sempit atau membaca secara harfiah.
Agama dan ilmu
dalam berberapa hal berbeda,namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama
lebih mengedepankan moalitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual),
Cenderung eksklusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru,
Tidak terlalu terikat dengan etika, Progresif, bersifat inklusif, dan objekif.
Agama selaras dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada
pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan. Agama tidak mengekang ilmu
pengetahuan. Agama hanyalah mengatur agar ilmu pengetahuan tidak melewati
batas-batas norma dan etika yang adanya. Di dalam agama, untuk hal-hal yang
sifatnya bukan ibadah umum terdapat kaidah ”segala hal itu diperbolehkan
kecuali yang dilarang.” Dengan demikian ilmu pengetahuan dapat terus berkembang
dan bermanfaat bagi umat manusia.
B.
Saran
kemajuan
IPTEK sangat berdampak bagi kehidupan manusia didunia. Sebagai generasi muda
penerus bangsa sudah selayaknyabelajar untuk menggunakan dan memanfaatkan Ilmu
pengetahuan dan teknologi sebaik mungkin namun tetap berdasar aturan-aturan
Agama Islam . Sudah semestinya kita bersatu menguasai IPTEK agar tidak kalah
dengan bangsa lain itu. Namun, tetap saja, jika kita telah mendapatkan IPTEK,
segeralah imbangi diri anda dengan Iman dan Taqwa
DAFTAR
PUSTAKA
Barbour, Ian.
2005. Menemukan Tuhan Dalam Sains Kontemporer dan Agama. Bandung: PT
Mizan Pustaka
Tim Perumus Fakultas
Teknik UMJ Jakarta. 1998. Al-Islam dan Iptek, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Akbar,
Ravi Garibaldi. 2011. LTM MPK Agama Islam.
Tim
Dosen Pai Unesa. 2013. Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Surabaya :
Unesa University Press
[1][1]Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ Jakarta, Al-Islam dan Iptek, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), h. 57.
[2][2]Ian Barbour, Menemukan Tuhan Dalam Sains Kontemporer dan Agama, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2005), h. 9.

Comments
Post a Comment